Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Indobatt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indobatt. Tampilkan semua postingan

167 Prajurit TNI Berangkat Ke Haiti

http://www.antarasumut.com/wp-content/uploads/2011/05/peristiwa-prajurit-indobatt-08.jpg

Sebanyak 167 Prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Kompi Zeni Kontingen Garuda XXXII-C/ Mission des Nations Unies pour la Stabilisation en Haiti (Minustah) di bawah pimpinan Mayor Czi Alfius Navirinda K siap berangkat ke Haiti.

Kepastian pemberangkatan itu dinyatakan Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI Brigjen TNI AM Putranto yang mewakili Asops Panglima TNI Mayjen TNI Ridwan saat menutup latihan penyiapan Satgas Kizi Konga XXXII-C/Minustah, di PMPP TNI Sentul, Bogor, Jawa Barat,Jumat.

Ke-167 prajurit TNI itu terdiri dari tiga orang Mabes TNI, 141 orang TNI Angkatan Darat, 18 orang TNI Angkatan Laut dan 5 orang TNI Angkatan Udara.

"Saat ini para peserta latihan sudah mempunyai bekal pengetahuan dan kemampuan untuk ditugaskan sebagai pasukan penjaga perdamaian khususnya pada misi Minustah Haiti dan siap bertugas melanjutkan misi Konga XXXII-B/Minustah," kata Asops Panglima TNI.
Read more »
Posted by 04.22

Tim ECU Mengecek Lingkungan Markas TNI di Haiti

http://static.liputan6.com/201309/130912atni.jpg

Setiap 6 bulan sekali Tim ECU (Environmental Compliance Unit) sebuah unit bagian dari The Office of the Director of Mission Support Division (ODMS) yang memiliki tugas dalam penanganan masalah lingkungan melakukan pengecekan terhadap seluruh fasilitas yang dimiliki oleh Minustah (Mission des Nations Unies pour la Stabilisation en Haiti). Dengan tujuan untuk memberikan penilaian bagi seluruh kontingen sebagai penjaga perdamaian PBB di Haiti dalam usahanya turut serta menjaga kelestarian lingkungan. Serta memberikan saran dan solusi apabila ditemukan hal-hal yang menonjol terkait persoalan lingkungan yang ditemukan selama pengecekan.

Untuk kedua kalinya Tim ECU melaksanakan pengecekan terhadap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh Satgas Kizi TNI Konga XXXII-B/Minustah untuk turut serta menjaga kelestarian lingkungan. Tim yang diketuai oleh dr Fernando Munoz selaku Environmental Military Officer beserta dua stafnya tiba di Markas Satgas Kizi TNI, Bumi Garuda Camp, Gonaives-Haiti, pada Selasa 10 September 2013 untuk melaksanakan pengecekan tempat para prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Kizi TNI bertempat tinggal.

Setelah diterima di ruang kerja Dansatgas Kizi TNI Letkol Czi Arief Novianto, selanjutnya rombongan Tim ECU melaksanakan peninjauan ke lapangan. Adapun tempat-tempat yang menjadi obyek pengecekan, antara lain bengkel pemeliharaan angkutan dan alat berat, penyimpanan bahan bakar dan pelumas, pemeliharaan dan operasional generator, pengolahan limbah baik limbah organik maupun limbah padat, pengolahan air minum termasuk petugas logistik, dan personel lain yang berkaitan dengan penanganan limbah terhadap lingkungan.

Melihat secara langsung usaha yang telah dilakukan Satgas Kizi TNI dalam usaha turut serta menjaga kelestarian lingkungan, Tim ECU memberikan penilaian yang sangat baik karena tidak ditemukan hal-hal yang menonjol selama dilakukan pengecekan. Sementara itu, saat berita ini diturunkan, telah diperoleh hasil bahwa Satgas Kizi TNI Konga XXXII-B/Minustah memperoleh hasil yang terbaik. Hal ini berdasarkan berita elektronik yang disampaikan oleh Director of Mission Support Division (DMS) kepada Dansatgas Kizi TNI.
Read more »
Posted by 20.05

Indonesia Siap Kirim Pasukan Perdamaian Ke Suriah

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhr-6vixapCf3bDXOHVZKJmwuIE8ccE7YSy_jrAgpL8EjV8Sj75VpSk3lX7bRrGF3C7tuYQVivO7yqbapRs3bUo1MlKCBRu9D9Wj-HnMH7DIHTjLZN5xzlcTp07eadxxcq1R5z0PN_8hi0/s640/59061_pasukan_tni_di_lebanon_dalam_misi_pbb.jpg

Indonesia siap mengirimkan pasukan perdamaian ke Suriah bila PBB berhasil memaksa pihak berkonflik untuk gencatan senjata. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, gencatan senjata cara yang dapat ditempuh PBB untuk menyelesaikan konflik Suriah yang semakin memanas dan bisa tidak terkendali. "Saya terus menjalin komunikasi dengan Sekjen PBB dan sejumlah kepala negara untuk mencari solusi mengakhiri konflik Suriah ini," kata Presiden SBY di dalam pesawat kepresidenan dari penerbangan St Petersburg menuju Dubai dan Jakarta, Sabtu.

Dalam pertemuan pemimpin dunia di G-20 Petersburg, Rusia, Presiden menyampaikan opsi penyelesaian konflik Suriah, di luar opsi yang kini berkembang, yakni opsi militer dan opsi diplomasi. Menurut Presiden, harus ada opsi alternatif, yakni gencatan senjata antara pemerintah Suriah dan oposisi.

Di Petersburg, kepada Sekjen PBB, Ban Ki Moon yang didampingi utusan khusus PBB untuk Suriah dan Liga Arab, Lakdhar Brahimi, Presiden menyarankan DK PBB segera memutuskan gencatan senjata dan memberi mandat pasukan perdamaian. Setelah gencatan senjata dilaksanakan atas mandat PBB, dilanjutkan pengalokasian bantuan kemanusian, dan penyelesaian politik yang transparan oleh rakyat Suriah.

Presiden mengatakan, kemampuan Indonesia untuk menyelesaikan konflik Suriah ini terbatas. Indonesia bukan negara super power, bukan pula negara yang memiliki hak veto, juga bukan anggota DK PBB. Namun, sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk menghindari tragedi kemanusiaan di Suriah. "Saya terus bekerja, melakukan dialog, komunikasi dengan sejumlah pemimpin negara berpengaruh. Namun perlu juga dipahami bahwa posisi Indonesia tidak cukup kuat untuk penyelesaian konflik ini, namun kita tidak berdiam diri saja," ujar Presiden.

Sehari sebelum kembali dari Rusia, Presiden SBY bertemu Sekjen PBB Bang Ki Moon di St Patersburg, Rusia. Presiden menegaskan penyelesaian konflik Suriah tidak tepat melalui kekuatan militer. "Tidak tepat aksi militer untuk tujuan menghukum atau mencegah senjata kimia di Suriah tanpa kesepakatan PBB. Kekuatan militer bukan solusi yang baik, kita tidak menghendaki solusi itu," ujar Presiden dalam jumpa pers usai KTT G-20 di St Petersburg.

Konflik Suriah menjadi perhatian besar pertemuan pemimimpin puncak G-20 di Petersburg. Apalagi, semua pemimpin negara yang memiliki hak veto PBB hadir dalam pertemuan tersebut, yakni Presiden AS, Presiden Rusia, Presiden China, PM Inggris, dan Presiden Prancis. Lima negara pemilik hak veto tersebut mempunyai pandangan berbeda dalam penyelesaian soal Suriah ini, ada yang setuju kekuatan militer, ada yang menolak.

Rusia salah satu penentang penggunaan kekuatan militer. Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan, serangan terhadap Suriah tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB, sama artinya melakukan agresi militer. Putin juga menyebutkan, pemimpin Suriah Bashar al Assad tidak mungkin menginzinkan pasukannya menggunakan senjata kimia.

Para analis menduga, Presiden Barack Obama berupaya meyakinkan negara-negara G-20 untuk menyetujui rencana AS menyerang Suriah dengan alasan senjata kimia. Namun, upaya ini disambut dingin. Para pemimpin dunia yang hadir di KTT ini cenderung menyerahkan soal ini ke Dewan Keamanan PBB dan mendorong penyelesaian politik daripada kekuatan senjata.

Presiden Dewan Eropa, Herman Van Rompuy di St.Petersburg menyatakan, solusi memnyelesaikan persoalan Suriah bukan dengan kekuatan militer. "Jangan ada solusi militer, hanya penyelesaian politik yang dapat menghentikan konflik di Suriah," katanya. Seruan serupa juga disampaikan Presiden Komisi Eropa, Jose Barroso. "Uni Eropa berkeyakinan bahwa harus ada upaya keterlibatan melalui solusi politik bagi konflik tersebut," kata Barosso.
Read more »
Posted by 02.56