Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Alutsista. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alutsista. Tampilkan semua postingan

Alutsista Standat Minimum Tahap I Milik TNI Akan Lengkap pada 2017

http://statik.tempo.co/data/2013/10/05/id_225926/225926_620.jpg

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat, Brigadir Jenderal Rukman Ahmad, mengatakan seluruh alat utama sistem persenjataan (alutsista) baru untuk angkatannya paling lambat datang ke Tanah Air pada 2017 mendatang. "Paling lambat tahun 2017 semua alutsista baru tahap awal, termasuk helikopter Apache, sudah datang," kata Rukman, di halaman Monumen Nasional, Jakarta, Senin, 7 Oktober 2013. "Ini hasil konfirmasi saya kepada staf logistik Angkatan Darat."

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoedin menyatakan, Indonesia bakal segera menerima sejumlah alutsista baru. Rencananya, alutsista baru itu bakal diterima pada September 2013 mendatang. "Mulai September dan Oktober ini sudah mulai berdatangan," katanya di Balai Kota, Jakarta, Rabu, 21 Agustus 2013, lalu.

Alutsista baru itu antara lain ratusan tank berat Leopard, puluhan tank jenis amfibi yang digunakan untuk menjaga garis pantai, dan sejumlah unit roket untuk pertahanan jarak jauh. Selain itu, akan datang beberapa unit pesawat tempur. "Semua dibeli sendiri oleh Indonesia, tidak diberikan pihak mana pun," katanya.

Rukman menjelaskan bahwa Kementerian Pertahanan sendiri mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp 150 triliun untuk kepentingan modernisasi alutsista. Anggaran itu diberikan pemerintah dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Read more »
Posted by 02.58

Presiden SBY: Alutsista Kita Meningkat Signifikan

http://statik.tempo.co/?id=92781&width=475

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyoroti masalah alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI dalam pidato yang disampaikannya dalam perayaan HUT Ke-68 TNI di Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Sabtu (5/10/2013). Presiden menuturkan, alutsista TNI telah meningkat signifikan.

"Agar mampu mengemban tugas negara, modernisasi terus dilakukan. Alat utama sistem kesenjataan juga makin kita penuhi dan lengkapi. Kita lakukan penambahan semua alutsista di semua matra dan lini untuk dapat essential minimum force," ujar SBY.

Dengan kerja sama industri pertahanan dengan negara-negara tetangga, katanya, tahun ini dan tahun berikutnya, kekuatan alutsista meningkat secara signifikan. Presiden mencontohkan di TNI Angkatan Darat, sudah ada tank tempur utama, tank anoa, rudal pertahanan, roda antitank, heli angkut, heli serang, heli serbu beserta persenjataan dan amunisinya.

Sementara di TNI Angkatan Laut, alutsista yang dimiliki ialah seperti kapal cepat rudal, pesawat patroli maritim, tank amfibi, dan tank multilaras taktis. Di TNI Angkatan Udara, juga sudah dilengkapi alutsista seperti pesawat angkut sedang jenis CN, helikopter combat SAR, pesawat tempur super Tucano, Sukhoi, dan 24 unit pesawat F-16.

Lebih lanjut, SBY juga menuturkan, untuk mendukung pemenuhan kebutuhan alutsista peran industri strategi, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Peran Industri Strategi harus dijalankan secara konsisten. Hal ini, kata SBY, bisa mendorong daya saing dan produksi nasional alutsista yang semakin berkualitas.

"Insya Allah dalam waktu tidak lama lagi, industri pertahanan dalam negara bisa berjalan mandiri. Alutsista yang diperlukan melalui senjata, alat medis, alat komunikasi, kapal perang, helikopter, dan kapal tempur sudah dilengkapi," katanya.

Di usia yang ke-68 TNI ini, Presiden SBY meminta seluruh prajurit TNI menyampaikan pengabdian, kesiapsiagaan di mana pun bertugas. Prajurit TNI juga diminta menjaga kekompakan. "Jadilah tentara pejuang yang dicintai dan mencintai rakyat," pesan SBY.
Read more »
Posted by 05.11

Helm dan Rompi Anti Peluru Buatan Indonesia Mulai di Ekspor Ke Beberapa Negara Termasuk Malaysia

http://images.detik.com/content/2013/10/04/1036/militer.jpg

Peralatan militer buatan Indonesia diminati oleh pasukan militer luar negeri. Beberapa produk perlengkapan militer seperti helm tahan peluru untuk pasukan militer juga digunakan oleh Tentara Diraja Malaysia. Produsen rompi dan helm tahan peluru, PT Saba Wijaya Persada telah mengekspor helm tahan peluru ke Malaysia. Helm tahan peluru yang diproduksi di Jelambar-Jakarta Barat ini, mulai dikirim sebanyak 3.000 pis pada tahun ini.

http://203.21.74.26/pdimage/92/1390892_bpvest.mw.jpg

"Yang dipesan ekspor helm. Untuk tentara Malaysia. Tahun ini sudah mulai sebanyak 3.000. Untuk tentara kerajaan," kata Staff PT Saba Wijaya Persada, Yuda kepada di acara pameran produk militer di lapangan silang monas Jakarta, Jumat (4/10/2013).

Selain Malaysia ada berbagai negara di Asia yang mulai melirik produk rompi dan helm tahan peluru buatan PT Saba Wijaya Persada. PT Saba Wijaya Persada sendiri merupakan mitra binaan Kementerian Pertahanan. Perusahaan ini telah memproduksi rompi dan helm tahan peluru sejak 2005. "Kalau helm keunggulan tahan peluru. Kualitasnya nggak kalah dengan Eropa. Bahan dari serat aramid. Semua TNI sudah pakai," jelasnya.
Read more »
Posted by 20.27

Dr.Connie Rahakundini : Industri Pertahanan Indonesia Memiliki Banyak Kekhasan

http://www.swatt-online.com/wp-content/uploads/2012/07/Connie-Rahakundini-Bakrie.jpg

Dr.Connie Rahakundini Bakrie, tampil sebagai nara sumber kedua pada pelaksanaan Seminar Akhir Pendidikan yang digelar oleh Perwira Siswa (Pasis) Seskoau Angkatan ke-50 di Bangsal Srutasala, Rabu (2/10). Dalam ceramahnya yang berjudul �Peningkatan Kemampuan Industri Strategis Pertahanan dan Model Pengelolaan dalam rangka Mengurangi Ketergantungan Luar Negeri�, menyoroti kompleksitas permasalahan industri pertahanan nasional yang hingga kini belum mandiri.

Menurut Dr.Connie, sebagai alat pertahanan negara dalam tugasnya TNI membutuhkan dukungan alat pertahanan yang memadai. Ditambahkannya terdapat tiga pilar industri pertahanan Indonesia sebagai pendukung TNI yang dalam kenyataannya saling terkait satu sama lain. Tiga pilar tersebut adalah pertama, produsen yang dilaksanakan oleh BUMN dan BUMS sebagai penyedia alat pertahanan dalam negeri, kedua pemerintah yang mengeluarkan berbagai regulasi yang relevan dan ketiga pengguna yang meliputi TNI, Polri, instansi lain bahkan untuk keperluan ekspor. Di dalam tiga pilar terdapat juga unsur-unsur Penelitian dan Pengembangan (litbang) yang bekerja berdasarkan tugas pokok dan visi masing-masing tiga pilar tersebut.

Untuk dapat berkembang bahkan mandiri, industri pertahanan nasional memerlukan peran negara yang dapat membawanya ke arah tujuan yang dituju. Peran negara yang diharapkan adalah iklim yang jelas bagi produsen, sehingga operasional BUMN dan BUMS jelas pula arahnya ke depan. Memang, pemerintah telah membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) berdasarkan Perpres Nomor 42/2010 sebagai wujud komitmennya melakukan revitalisasi industri pertahanan nasional, namun pada kenyataannya jalan menuju kemandirian belum dapat direalisasikan. Hal ini dikarenakan antara lain oleh berbagai kekhasan dalam industri pertahanan nasional seperti teknologinya tingkat tinggi, kompleksitasnya teknologi industri pertahanan, harga pengembangan yang semakin tinggi, masalah pasar yang terbatas juga masa impas yang lama, permasalahan aliran dana, keterkaitan yang erat antara pasar komersial dan pertahanan dan lain-lainnya.
Read more »
Posted by 05.27

Indonesia - Polandia Jajaki Produksi Bersama Membuat Alat Utama Sistem Pertahanan

http://images.detik.com/content/2013/09/04/10/203434_kerjasamanripolandia.jpg

Pemerintah Indonesia dan Polandia akan meningkatkan kerjasama di bidang industri pertahanan. Ada penjajakan kedua negara akan melakukan produksi bareng alat utama sistem pertahanan (alutsista). Kerjasama di bidang pertahanan menjadi salah satu dari sekian banyak bidang yang akan dikerjasamakan antara Indonesia dan Polandia. "Yang lain adalah kerjasama di bidang pertahanan, industri pertahanan. Banyak yang perlu dikerjasamakan," kata Presiden SBY saat jumpa pers bersama Presiden Polandia Bronislaw Komorowski di Istana Kepresidenan Polandia, Rabu (4/9/2013).

Mengenai kerjasama industri pertahanan, Menko Polhukam Djoko Suyanto menjelaskan akan ada penjajakan pembuatan pesawat, helikopter, dan kapal patroli. "Jadi lebih pada joint production, tidak beli dari sini," kata Djoko kepada wartawan di Hotel Hyatt Regency, Warsawa. Prinsip pengembangan alutsista pemerintah saat ini, selama bisa dibuat di dalam negeri, tidak perlu membeli dari luar negeri. "Jadi nanti tidak tertutup kemungkinan joint production," ujar Djoko.

Saat ini, aparat militer dan polisi menggunakan alutsista dari Polandia. "Polisi misalnya pakai sytruck dari Polandia. Ada juga kapal-kapal patroli kecil," kata Djoko. Saat ini kerjasama antara Indonesia dan Polandia dalam industri pertahanan sudah berlangsung. "Antara Kemenhan kita dengan Polandia sudah ada kerjasama. Nanti perlu dibahas lagi kira-kira jenis alutsista mana yang akan di-join product-kan. Jadi perlu perundinan terus," ujar dia.
Read more »
Posted by 19.55